“Sampai
kapan kamu akan begini terus, nak”?, jawab si anak dengan tenang, “entahlah”.
Sebuah perkataaan sederhana, namun ketika di fahami
akan berdampak besar bagi sebuah kelangsungan interpretasi yang bernama
persepsi dalam fikiran. Pada dasarnya sebuah tujuan adalah sesuatu yang
menjadikan jalan akhir dalam kajian teoritis maupun tekstual dalam momentum
perjalan manusia.
Tidak
dapat di pungkiri bahwa pelemahan-pelemahan yang ada terutama dalam tatanan
kesosialan bermasyarakat dan berbudaya terkadang sangat di pupuk subur dalam
konsepsi fikiran yang terbatas. Padahal dalam kajian tertentu hal yang demikian
itu sangatlah berbahaya dalam perspektif perjalanan kedepanya.
Tulisan
kecil karya mas Woko utoro insya allah akan sedikit menggugah fikiran anda
wahai para pembaca. Tulisan sederhana ini akan memWowkokan semangat anda dalam
hal literasi kajian ilmu yang bermanfaat kedepanya, perlu di fahami bahwa dalam
tulisan ini nantinya bukan untuk mengubah paradigma atau bahkan mengubah
ideologi anda, melainkan akan mengubah cara pandang secara sederhana untuk
menjadikan sebuah proses dan tujuan akhir itu penting dalam sebuah ke indahan
berpersepsi dan telaah kehidupan di masa depan.
Mari
kita kembali pada pokok permasalahan yang ada di atas, saya sangat mengamini
bahwa cara pandang seseorang dalam menelaah sesuatu itu sangat berbeda- beda
dan memiliki corak warnanya masing-masing. Beda
kepala beda pula isinya, mungkin pepatah itu yang tepat untuk menggambarkan
madzhab fikiran seseorang, disisi lain berbedaan adalah rahmat.
Kata
entah adalah salah satu dari kata yang akan membuat psikologi seseorang akan
mengalami perubahan walaupun tidak begitu signifikan, akan tetapi tak dapat
menafikan bahwa kata itu akan menjadi sebuah negeri yang mengerikan dalam
fikiran kita, yang akan memenjarakan bahkan akan membunuh siapa saja yang terus
mentradisikanya. Dalam sebuah kajian psikologi hal yang demikian harus di buang
sejauh mungkin, karena yang demikian itu akan memperlambat persepsi yang sejak
awal memiliki pandangan yang jernih seketika itu juga akan menjadi keruh dan
menjadi sosok yang mengerikan. Di tambah lagi di tinjau dari sisi tasawuf hal itu akan membuat pesimis
seseorang untuk mencapai segala apa yang ia inginkan, dalam konteks ini yaitu
sesuatu yang baik dan di peroleh dengan baik pula.
Maka
dari itu proses optimalisasi kehidupan
sangat di perlukan sekali dalam sebuah sugesti, guna menumbuhkan neuron-neuron
positif yang akan terus memacu arah otak menuju jalan yang gemilang. Teruslah
melangkah agar tetap dalam dalam keadaan istiqomah,
jangan coba untuk berhenti sejengkalpun, karena kita harus di beri stimulus
bahwa masa depan akan cerah, terbuka lebar bagi siapa saja yang mau
menjemputnya. Masa depan bukan di khususkan bagi mereka yang pintar akan tetapi
akan di berikan bagi mereka yang cerdas, yang mampu memanfaatkan di setiap
waktu-waktu luangnya untuk teru belajar dan belajar, bukan untuk malas-malasan.
Jangan pernah anggap dirimu itu paling bodoh, tetapi anggaplah diri ini adalah
salah satu orang yang haus akan ilmu pengetahuan, bukankan kita tak ingin di
anggap sebagai orang yang miskin ilmu?, maka dari itu belajarlah.
Memiliki
ilmu pengetahuan di atas orang lain bukan bermaksud untuk menyombongkan diri
melainkan untuk introspeksi diri dan mengayaomi, ingat bukan menggurui. Jauhkan
perkataan yang berbau melemahkan dan hadirkanlah pewangi penyejuk dengan kata
optimisme tinggi, didiklah, didiklah, didiklah, bisa, bisa, bismillah. ”Allah akan mengangkat orang yang mau menuntut ilmu
beberapa derajat”..Kemalasanku adalah air mata kedua
orang tuaku, woks,MA

keeeerrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnn
ReplyDeleteShare yo broo hehe
DeleteLike This............. :)
ReplyDeleteDitunggu tulisannya mbak dwi :)
DeleteKeren...
ReplyDeleteSedikit koreksi ttg struktur kebermasyarakatan sepertinya lebih pas dengan struktur masyarakat saja, ada juga kata sangat penting sekali, kata sangat sudah bermakna superlitas jadi tidak perlu kata sekali..
Good job..
oke matur thank you poro komentator atas masukanya
Delete...
di tunggu lagi masukan yang lebih segar yang lainya
"pantun"dua tiga rohmat menangis...saya jadi semangat untuk menulis..