Masa kecilnya di habiskan untuk bekerja
Masa remajanyapun di habiskan untuk bekerja
Hingga dewasapun ia tetap bekerja
Sampai masa tuanyapun ia masih saja bekerja
Seperti tak ada waktu buat istirahat
Seperti tak ada masa buatnya berhenti sejenak
Bayangkan saja..
Halaman sudah bersih di pagi buta
Segala kebutuhan rumah tangga telah siap
sedia, walaupun seadanya
Setelah selesai..
Ia langsung bergegas bekerja
Ia tak mau di dahului oleh terik matahari yang
terus menyinari
Ia ambil beberapa buah karung lengkap dengan
sabit dan tali yang terbuat dari kain
Lalu ia beranjak pergi, berjalan menyusuri
panjangnya bahu jalan
Hanya di temani sandal jepit yang usang dengan
tali dari kulit pohon waru
Ia susuri lebatnya hutan yang jauh dari desa
Sesampainya disana..
Nenek dengan cekatanya mengambil beberapa
lembar daun pisang
Untuk dibawanya pulang, untuk ia jual atau
tukarkan dengan lauk pauk sederhana
Tak lupa ia juga mencari rumput untuk ternak
kambing milik ia dan anaknya
Bayangkan saja..
Rumput satu karung plus beberapa lembar daun
pisang ia gendong di pundak bungkuknya itu
Dengan terpapah ia terus melangkah
Seperti tak ada yang namanya rasa lelah
Bismillah dan
sampai rumah
Perjalanan jauh dengan terik matahari yang
menyengat, atau kadang terguyur dinginya air hujan daun itu hanya di hargai
seribu rupiah
Uang yang hanya pas buat membeli satu ikat
krupuk pasir pelengkap makan satu kali
Bayangkan saja..
Sesampainya di rumah, duduk, minum dan makan
siang dengan lauk seadanya
Lalu ia beranjak pergi lagi
Menggembalakan kawanan kambing ke hutan dengan
jarak yang sama jauhnya
Namun ia tetap melangkah dan sabar
Ia nikmati hidup apa adanya dan di syukuri
Akan tetapi..
Sebenarnya anak cucunya menyuruhnya berhenti
bekerja
Tapi ia menolaknya
Sambil tersenyum ia berkata”biarlah nenekmu
ini terus bekerja, kalo sehari saja nenek tak kerja rasa badan ini sakit semua”
Sering sekali anak cucunya memaksanya berhenti
bekerja
Akan tetapi..
Sambil termenung ia berkata”biarlah di ujung
senja nenekmu ini tak merepotkan anak dan cucu-cucu semua, biar Allah menyambut
nenek dengan senyuman-Nya”
Mengapa nenek begitu keras kepala yang tak mau
menuruti kemauan anak cucunya
Seharusnya kini nenek menikmati masa tuanya
dengan bersantai dirumah
Biarkan anak dan cucunya yang bekerja
Akan tetapi..
Hasil yang tak seberapa besarnya dari jualan
daun malah ia berikan untuk jajan cucunya
Kadang juga kambing ia jual untuk keperluan
mendadak
Ya Allah..
Apa yang ia lakukan, semuanya Cuma buat anak
dan cucunya
Apa yang nenek lakukan ikhlas lillahi ta’ala
Walau ia sadar semua itu tak ada artinya
Nenek juga mengajari aku tentang cinta
Cinta kepada siapa saja, termasuk binatang
sekalipun
Termasuk kepada Tuhanya
Totalitas hidup nenek Cuma buat anak cucunya
Sambil menimang-nimang cucunya ia
berkata”nenek tidak ingin anak cucu nenek mengalami nasib yang serupa dengan
nenek, cukup nenek saja yang merasakanya”
Makanya nenek berpesan bahwa anak cucunya
harus berpengetahuan yang luas supaya tidak mudah di bodohi orang (berilmu)
Benar..
Memang Aku harus benar-benar sadar
Bahwa..
Ternyata ia benar-benar nenekku pahlawanku
**21/4/16, Selamat hari kartini, khususnya buat
neneku di Indramayu.
Semoga engkau baik-baik saja, terus do’akan
cucumu ini supaya menjadi sarjana mabrur yang dicintai teman-temanya yang sholeh
dan berbakti pada orang tua, guru dan berguna ilmunya di dunia dan akhirat.

No comments:
Post a Comment