Thursday, 26 May 2016
Sunday, 22 May 2016
Layangan Ber-Api
Hatiku tlah
terbakar. Sejak dulu sampai sekarang, masih saja terbakar. Entah api semacam
apa, yang tlah membakar hati ini.
Semuanya terasa semu dan menjemukan. Tak dapat aku mengungkapkan apa yang ada.
Api dalam diri masih saja berkobar, sepanjang waktu. Di setiap desah nafas ada
beban dan tekanan yang mencuat hingga ke permukaan. Seperti gunung berapi yang
hendak memuntahkan lahar panas.
Friday, 20 May 2016
cerita disudut masjid agung Al-Munawar.
Betapa pentingnya hidup dan
begitu banyaknya kejutan dalam hidup. Mungkin itulah yang dapat saya simpulkan
dimulai dari gerbang ponpes panggung putra saya dijemput teman saya,teman
ngumpul dan ngopi saya. Rencananya kita mau ke alun-alun untuk menyelesaikan
tugas masing2 akhirnya sampai sudah kita di parkiran alun2 kota Keramik
Tulungagung. Montorpun kami parkir lalu kita masuk alun2 dan mencari tempat
untuk duduk. "Akhir pekan "batin q berkata karena melihat keramaian
didalam lokasi ini, setelah mendapat tempat duduk kamipun mencari listrik untuk
mengecas laptop kami. tapi nasib berkata lain, listriknyapun tak nyala akhirnya
kami beranjak dari tempat semula lalu pergi untuk mencari lokasi yang pas untuk
beradu dengan otak dan mengolah pengetahuan kami untuk sekedar menjadikannya
tulisan.
Melewati jalan selatan masjid
Agung Munawar kami menuju tempat kami jarang ngopi disana yaitu di cafe yang
bernama HALTE,
Lagi-lagi Tuhan berkehendak lain
cafe ternyata masih tutup dengan kecewanya kami karena gagal rencana kedua kami,
betapa malang nasib kita berdua luntang lantung di jalan seperti orang
kebingungan, tanpa arah dan tujuan ,hhe terlalu alay ya.
Kamipun akhirnya kemasjid
Al-munawar.montorpun kami parkir lagi setelah mencopot hlem kami mata kami
terfokus kepada seorang kakek berbaju batik dengan topi birunya dan amat keren
dan tampan sekali kakekpun melayani pembeli yang kebetulan lewat lalu mampir
kepinggir jalan untuk membeli jualan sang kakek. Kamipun mendekat karena
penasaran dan merasa kagum ketika seharusnya seusianya hidup dalam asuhan
anak2nya, seharusnya menikmati masa tuanya namun sang kakek masih sangat
semangat untuk mencari nafkah yang entah beliau peruntukkan untuk siapa.
Ternyata yang dijualnya adalah getuk telo yang dibumbui dengan kristalan
parutan kelapa yang mungkin bisa mengganjal kelaparan untuk orang yang belom
sarapan dipagi hari ini.
Selesai membeli getuk kamipun beranjak
mencari tempat duduk diserambi masjid, lalu kami makan sambil sedikit ngobrol
ngalor ngidul (utara,selatan didalam bahasa jawa).sungguh pengalaman yang tidak
pernah terencanakan sebelumnya pagi ini kami mendapat beberapa pengalaman yang
luarbiasa dari sepercik cahaya mentari di pagi hari.
Monday, 16 May 2016
Rezekimu
Kadang kita suka berpikir.
"kenapa harta dia lebih lebih banyak dariku? Bukankah usaha yang ku lakukan
tak beda jauh.”
"Dia mempunyai harta yang
melimpah. dari mana? Padahal dibanding dia aku lebih giat berusaha.”
"Apakah Allah tidak
adil?."
Subscribe to:
Comments (Atom)



