Sunday, 22 May 2016

Layangan Ber-Api



Hatiku tlah terbakar. Sejak dulu sampai sekarang, masih saja terbakar. Entah api semacam apa, yang tlah  membakar hati ini. Semuanya terasa semu dan menjemukan. Tak dapat aku mengungkapkan apa yang ada. Api dalam diri masih saja berkobar, sepanjang waktu. Di setiap desah nafas ada beban dan tekanan yang mencuat hingga ke permukaan. Seperti gunung berapi yang hendak memuntahkan lahar panas.

Aku seperti bom waktu. Yang bisa meledak kapanpun, tanpa terduga. Semua di luar kendali diri. Serasa hidup namun mati. Jiwa ku seperti melayang-layang seperti layangan yang melambai-lambai kesana-kemari tertiup angin. Angin lautan di sore hari itu tlah memabukkan aku, hingga membawa ku sampai ke pulau selatan. Duh, akankah aku bertemu Nyai Roro Kidul ?

Nyatanya tidak. Aku tak menemui siapapun. Yang ada hanya pantulan wajahku di cermin air lautan. Inikah kehidupan ? Semua hanya pantulan di atas cermin air. Siapa aku ? Mengapa aku ada ? Untuk apa aku disini ? Semua pun hanya diam. Saat aku berkata. Ya, memang diam. Semesta selalu diam dalam keheningan.

Layangan ku kini tlah terbang lagi. Terombang-ambing dalam angin ataukah badai. Bahkan aku pun lupa, aku adalah bagian dari badai itu sendiri. Badai serumpun. Apa kabar badai serumpun ? Kemana engkau pergi ? Aku disini merindukanmu, Badai Serumpun.

Layanganku… Jiwaku…

Angin ataukah badai… adalah Jalanku..

Layangan berjalan di antara puing-puing angin, yang kemudian berubah menjadi badai.

Layangan dalam badai.

Layangan dalam Badai Serumpun.


Ditulis oleh:

D. Wulansari

No comments:

Post a Comment