Hatiku tlah
terbakar. Sejak dulu sampai sekarang, masih saja terbakar. Entah api semacam
apa, yang tlah membakar hati ini.
Semuanya terasa semu dan menjemukan. Tak dapat aku mengungkapkan apa yang ada.
Api dalam diri masih saja berkobar, sepanjang waktu. Di setiap desah nafas ada
beban dan tekanan yang mencuat hingga ke permukaan. Seperti gunung berapi yang
hendak memuntahkan lahar panas.
Aku seperti bom
waktu. Yang bisa meledak kapanpun, tanpa terduga. Semua di luar kendali diri.
Serasa hidup namun mati. Jiwa ku seperti melayang-layang seperti layangan yang
melambai-lambai kesana-kemari tertiup angin. Angin lautan di sore hari itu tlah
memabukkan aku, hingga membawa ku sampai ke pulau selatan. Duh, akankah aku
bertemu Nyai Roro Kidul ?
Nyatanya tidak. Aku
tak menemui siapapun. Yang ada hanya pantulan wajahku di cermin air lautan.
Inikah kehidupan ? Semua hanya pantulan di atas cermin air. Siapa aku ? Mengapa
aku ada ? Untuk apa aku disini ? Semua pun hanya diam. Saat aku berkata. Ya,
memang diam. Semesta selalu diam dalam keheningan.
Layangan ku kini
tlah terbang lagi. Terombang-ambing dalam angin ataukah badai. Bahkan aku pun
lupa, aku adalah bagian dari badai itu sendiri. Badai serumpun. Apa kabar badai
serumpun ? Kemana engkau pergi ? Aku disini merindukanmu, Badai Serumpun.
Layanganku…
Jiwaku…
Angin ataukah
badai… adalah Jalanku..
Layangan berjalan
di antara puing-puing angin, yang kemudian berubah menjadi badai.
Layangan dalam
badai.
Layangan dalam
Badai Serumpun.
Ditulis oleh:
Ditulis oleh:
D. Wulansari

No comments:
Post a Comment