Thursday, 22 October 2015

Dinasti Abbasiyah

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

     Setelah nabi Muhammad SAW wafat, kepemimpinan islam digantikan oleh para sahabat Nabi, atau biasa disebut Khulafaur Rasyidin. Selanjutnya di pegang oleh Dinasti Umayyah. Lalu, sampailah pada  saat keruntuhan kekuasaan Dinasti Umayyah, yang dimanfaatkan Oleh Bani Abbas untuk membuat Disnati baru. Dengan Mewarisi wilayah dari Dinasti Umayyah yang luas, lahirlah dinasti baru bernama Dinasti Abbasiyah. Khalifah pertama adalah Abdullah Ash-Shaffah bin Muhammad.
   Dinasti Abbasiyah, perkembangan pesat pada Ilmu pengetahuan. Berbagai cabang ilmu berkembang pada masa dinasti ini. Dan terlahirlah tokok-tokoh ilmuwan hebat pada masa ini pula. Menjadikan Dinasti Abbasiyah sebagai
salah satu kekuatan dunia dengan tingginya peradaban dan kekuasaannya.



B. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Pendirian Dinasti Abbasiyah?
  2. Bagaimana Pola Pemerintahan Dinasti Abbasiyah?
  3. Bagaimana Ekspansi Wilayah  Dinasti Abbasiyah?
  4. Bagaimana Peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah?

C. Tujuan Pembahasan
  1. Memahami Pendirian Dinasti Abbasiyah.
  2. Memahami Pola Pemerintahan Dinasti Abbasiyah.
  3. Bagaimana Ekspansi Wilayah  Dinasti Abbasiyah.
  4. Bagaimana Peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah.(ftr)




BAB II

PEMBAHASAN


A.    Pendirian Dinasti Abbasiyah
            Pemerintahan Dinasti Abbasiyah dinisbatkan kepada Al-Abbas, paman Rasulullah SAW, sementara khalifah pertama dari pemerintahan ini adalah Abdullah Ash-Shaffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Mutholib.[1]
            Berdirinya Dinasti Abbasiyah tidak bisa dilepaskan dari munculnya berbagai masalah di periode-periode terakhir Dinasti Umayyah. Pada saat ketidakpuasan sudah terjadi dimana, kemudian kesempatan ini dipergunakan oleh Bani Abbas untuk melancarkan propaganda. Propaganda Abbasiyah dilaksanakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia.[2]
Abdullah bin Ali, salah seorang paman Abul Abbas diperintahkan untuk mengejar khilafah Umayyah terakhir, Marwan bin Muhammad bersama pasukannya yang melarikan diri. Khalifah itu melarikan diri hingga ke Fustat di mesir dan akhirnya terbunuh di Busir, wilayah Al-Fayyun, tahun 132 H/ 750 M dibawah pemimpin Salih bin Ali, seorang paman Al-Abbas yang lain. Dengan demikian, maka tumbanglah kekuasaan Dinasti Umayyah, dan berdirilah Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Khalifah pertamanya, yaitu Abul Abbas Ash-Shaffah dengan pusat kekuasaan awalnya di kufah.[3]

B.     Pola Pemerintahan
Bani Abbasiyah mewarisi imperium besar dari Bani Umayyah. Mereka memungkinkan dapat mencapai hasil lebih banyak karena landasannya telah dipersiapkan oleh Bani Umayyah yang besar. Sebelum Abul Abbas meninggal, ia sudah mewasiatkan siapa penggantinya, yakni saudaranya, Abu Ja’far, kemudian Isa bin Musa, keponakannya. Sistem pengumuman putra mahkota itu mengikuti cara Dinasti Bani Umayyah. Dan satu lagi bagi para khilafah Abassiyah, yaitu pemakaian gelar. Misalnya Abu Ja’far, ia memakai gelar Al-manshur.
Selama Dinasti Abbasiyah berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah dalam empat periode berikut.
1.      Masa Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya Daulah Abbasiyah tahun 132 H (750 M) sampai meninggalnya Khalifah Al-Watsiq 232 H (847 M)
2.      Masa Abbasiyah II, yaitu mulai Khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 232 H (847 M) sampai berdirinya daulah Buwaihiyah di Baghdad pada tahun 334 H (946 M).
3.      Masa Abbasiyah III, yaitu dari berdirinya Daulah Buwaihiyah tahun 334 H (946 M) sampai masuknya kaum Saljuk ke Baghdad tahun 447 H (1055 M)
4.      Masa Abbasiyah IV, yaitu masuknya orang-orang Saljuk ke Baghdad tahun 447 H (1055 M) sampai jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H (1258 M).[4]

C.    Ekspansi Wilayah
Dinasti Abbasiyah lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan islam daripada perluasan wilayah. Sehingga pada pemerintahan Abbasiyah tidak fokus pada politik, tercermin pada banyaknya wilayah yang  melepaskan diri dari Dinasti Abbasiyah. Namun walaupun wilayah pada masa Dinasti Abbasiyah semakin sempit, pada masa ini Ilmu pengetahuan berkembang pesat. Sampai-sampai tokoh barat, bernama Philip K. Hitti menyebut Baghdad, yang saat itu sebagai Ibu kota Dinasti Abbasiyah sebagai kota intelektual, menurutnya Baghdad Merupakan professor masyarakat islam.[5]

D.    Peradaban Islam
Peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh dan berkembang bahkan mencapai kejayaannya pada masa Abbasiyah. Hal tersebut dikarenakan Dinasti Abbasiyah pada periode ini lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Di sini letak perbedaan pokok antara Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah.
Puncak kejayaan Dinasti Abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan anaknya Al-Makmun (813-833 M). ketika Ar-Rasyid memerintah, negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin walaupun ada juga pemberotakan, dan luas wilayahnya mulai dari Afrika utara hingga ke india. Didirikan perpustakaan yang diberi nama Baitul Hikmah, di dalamnya orang dapat membaca, menulis dan berdiskusi. Pada saat itu berkembang ilmu pengetahuan agama, seperti ilmu Alquran, Qira’at, Hadits, Fiqh, Ilmu kalam, Bahasa dan Sastra. Empat mazhab fiqh timbuh dan berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah. Disamping itu berkembang pula ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, ilmu, ilmu alam, geografi, aljabar, aritmatika, mekanik, astronomi, musik, kedudukan, dan kimia.
Lembaga pendidikan pada masa dinasti Abbasiyah mengalami perkembangan dan kemajuan sangat pesat. kemajuan tersebut paling tidak, ditentukan oleh dua hal, yaitu sebagai berikut.
1.      Terjadinya asimilasi antara bahasa arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan bani Abbas, bangsa-bangsa non arab banyak yang masuk islam. Di samping itu, bangsa Persia, India, dan yunani banyak berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
2.      Gerakan penerjemahan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa Khalifah Al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan mantiq. Fase kedua berlangsung mulai masa Khalifah Al-Makmun hingga tahun 300 H. buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat, dan kedokteran pada fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas.
Dinasti Abbasiyah dengan pusatnya di Baghdad sangat maju sebagai pusat kota peradaban dan pusat ilmu pengetahuan. Beberapa kemajuan dalam berbagaia bidang kehidupan dapat disebutkan sebagai berikut.
1.      Bidang Agama
Kemajuan di bidang agama antara lain dalam beberapa bidang ilmu, yaitu ulumul qur’an, ilmu tafsir, hadits, ilmu kalam, bahasa, dan fiqh. Tokoh-tokohnya antara lain : Imam Syafi’I  pada bidang fiqh, Imam Bukhori pada bidang ilmu hadits.
2.      Bidang Umum
Dalam bidang umum anatara lain berkembang berbagai kajian dalam bidang filsafat, logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geometri,aritmatika, mekanik, astronomi, musik, kedokteran, kimia, sejarah, dan sastra. Beberapa tokohnya antara lain, pada filsafat ada Al-Ghazali, Ibnu Rusyd. pada Ilmu Kedokteran ada Ibnu Sina, Ar-Raazi.

           E.     Kemunduran dan Kehancuran
Sebagaimana halnya keberadaan suatu pemerintahan, biasanya dimulai dari sejarah pembentukan, kemudian dilanjutkan dengan kemajuan-kemajuan yang sempat diukir dan diakhiri dengan kehancurannya. Termasuk Dinasti Abbasiyah ini, setelah kemajuan-kemajuan sudah banyak diraih dalam banyak bidang, kemudian sampailah pada fase kemunduran dan kehancurannya.
Menurut Dr. Badri Yatim, M.A., diantara hal yang menyebabkan kemunduran Daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut.
      1.      Persaingan antar bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama tertindas. Setelah dinasti Abbasiayah berdiri. Pada masa ini persaingan antarbangsa menjadi pemicu untuk saling berkuasa.
      2.      Kemerosotan ekonomi
Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran dibidang politik. Pada periode pertama, pemerintah Bani Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kaya. Dan yang  masuk lebih besar daripada yang keluar, sehingga Baitul Mal penuh dengan harta. Setelah Khilafah mengalami periode kemunduran, pendapatan negara menurun, dan dengan demikian terjadi kemerosotan dalam bidang ekonomi.
      3.      Konflik Keagamaan
Fanatisme keagamaan terikat erat dengan persoalan kebangsaan. Pada periode Abbasiyah, konflik keagamaan yang muncul menjadi isu sentral sehingga mengakibatkan terjadi perpecahan. Berbagai aliran keagamaan seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Ahlu Sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai paham keagamaan yang ada.
      4.      Perang Salib
Perang Salib merupakan sebab dari eksternal umat Islam. Perang Salib yang berlangsung Beberapa gelombang banyak menelan korban. Konsentrasi dan perhatian pemerintahan Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara Salib sehingga muncul kelemahan-kelemahan.
      5.      Serangan Bangsa Mongol
Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam menyebabkan kekuatan Islam menjadi lemah, yang akhirnya menyerah kepada kekuatan Mongol.
Akhir dari kekuasaan Dinasti Abbasiyah ialah ketika Baghdad dihancurkan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan, pada tahun 656 H/1258 M. Baghdad dibumihanguskan dan diratakan dengan tanah. Khalifah Bani Abbasiyah yang terakhir dengan keluarganya, Al-Mu’tashim Billah dibunuh, buku-buku yang terkumpul di baitul Hikmah dibakar dan dibuang ke sungai Tigris sehingga berubahlah warna air sungai tersebut yang jernih menjadi hitam kelam lunturan tinta yang ada pada buku-buku itu.
Dengan demikian, lenyaplah Dinasti Abbasiyah yang telah memainkan peran penting dalam pencaturan kebudayaan dan peradaban Islam dengan gemilang.[6]






BAB III

KESIMPULAN


Pemerintahan Dinasti Abbasiyah dinisbatkan kepada Al-Abbas, paman Rasulullah SAW, sementara khalifah pertama dari pemerintahan ini adalah Abdullah Ash-Shaffah. Selama dinasti Abbasiyah berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Dinasti Abbasiyah lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan islam daripada perluasan wilayah. Peradaban dan kebudayaan islam tumbuh dan berkembang bahkan mencapai kejayaannya pada masa Abbasiyah. Puncak kejayaan dinasti Abbasiyah terjadi pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M).
Perkembangan ilmu pengetahuan berkembang pesat pada masa ini. Dengan didirikan perpustakaan yang diberi nama Baitul Hikmah di Baghdad. Ilmu pengetahuan berkembang dalam segala bidang. Dan pada masa Dinasti Abbasiyah lahir tokoh-tokoh hebat di berbagai bidang keilmuan.








DAFTAR PUSTAKA


Amin , Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Amzah
Fuadi, Imam. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta : Teras






















[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta : Amzah, 2010) hal 138.
[2] Imam Fuadi, Sejarah peradaban Islam, ( Yogyakarta : Teras, 2011) hal 105.
[3] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta : Amzah, 2010) hal 139-140.
[4] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Amzah, 2010) hal 141.
[5] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Amzah, 2010) hal 147.
[6] Imam Fuadi, Sejarah peradaban Islam, ( Yogyakarta : Teras, 2011) hal 146-148.

No comments:

Post a Comment