BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setelah nabi Muhammad SAW wafat, kepemimpinan islam digantikan oleh para sahabat Nabi, atau biasa disebut Khulafaur Rasyidin. Selanjutnya di pegang oleh Dinasti Umayyah. Lalu, sampailah pada saat keruntuhan kekuasaan Dinasti Umayyah, yang dimanfaatkan Oleh Bani Abbas untuk membuat Disnati baru. Dengan Mewarisi wilayah dari Dinasti Umayyah yang luas, lahirlah dinasti baru bernama Dinasti Abbasiyah. Khalifah pertama adalah Abdullah Ash-Shaffah bin Muhammad.
Dinasti Abbasiyah, perkembangan pesat pada Ilmu pengetahuan. Berbagai cabang ilmu berkembang pada masa dinasti ini. Dan terlahirlah tokok-tokoh ilmuwan hebat pada masa ini pula. Menjadikan Dinasti Abbasiyah sebagai
salah satu kekuatan dunia dengan tingginya peradaban dan kekuasaannya.
salah satu kekuatan dunia dengan tingginya peradaban dan kekuasaannya.
B. Rumusan Masalah
- Bagaimana Pendirian Dinasti Abbasiyah?
- Bagaimana Pola Pemerintahan Dinasti Abbasiyah?
- Bagaimana Ekspansi Wilayah Dinasti Abbasiyah?
- Bagaimana Peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah?
C. Tujuan Pembahasan
- Memahami Pendirian Dinasti Abbasiyah.
- Memahami Pola Pemerintahan Dinasti Abbasiyah.
- Bagaimana Ekspansi Wilayah Dinasti Abbasiyah.
- Bagaimana Peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah.(ftr)
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pendirian Dinasti Abbasiyah
Pemerintahan
Dinasti Abbasiyah dinisbatkan kepada Al-Abbas, paman Rasulullah SAW, sementara
khalifah pertama dari pemerintahan ini adalah Abdullah Ash-Shaffah bin Muhammad
bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Mutholib.[1]
Berdirinya
Dinasti Abbasiyah tidak bisa dilepaskan dari munculnya berbagai masalah di periode-periode
terakhir Dinasti Umayyah. Pada saat ketidakpuasan sudah terjadi dimana,
kemudian kesempatan ini dipergunakan oleh Bani Abbas untuk melancarkan
propaganda. Propaganda Abbasiyah dilaksanakan dengan strategi yang cukup matang
sebagai gerakan rahasia.[2]
Abdullah bin Ali, salah seorang
paman Abul Abbas diperintahkan untuk mengejar khilafah Umayyah terakhir, Marwan
bin Muhammad bersama pasukannya yang melarikan diri. Khalifah itu melarikan diri
hingga ke Fustat di mesir dan akhirnya terbunuh di Busir, wilayah Al-Fayyun,
tahun 132 H/ 750 M dibawah pemimpin Salih bin Ali, seorang paman Al-Abbas yang
lain. Dengan demikian, maka tumbanglah kekuasaan Dinasti Umayyah, dan
berdirilah Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Khalifah pertamanya, yaitu Abul
Abbas Ash-Shaffah dengan pusat kekuasaan awalnya di kufah.[3]
B. Pola
Pemerintahan
Bani Abbasiyah mewarisi imperium
besar dari Bani Umayyah. Mereka memungkinkan dapat mencapai hasil lebih banyak
karena landasannya telah dipersiapkan oleh Bani Umayyah yang besar. Sebelum
Abul Abbas meninggal, ia sudah mewasiatkan siapa penggantinya, yakni
saudaranya, Abu Ja’far, kemudian Isa bin Musa, keponakannya. Sistem pengumuman
putra mahkota itu mengikuti cara Dinasti Bani Umayyah. Dan satu lagi bagi para
khilafah Abassiyah, yaitu pemakaian gelar. Misalnya Abu Ja’far, ia memakai
gelar Al-manshur.
Selama Dinasti Abbasiyah berkuasa,
pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,
sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu,
para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah dalam empat
periode berikut.
1. Masa Abbasiyah I, yaitu semenjak
lahirnya Daulah Abbasiyah tahun 132 H (750 M) sampai meninggalnya Khalifah
Al-Watsiq 232 H (847 M)
2. Masa Abbasiyah II, yaitu mulai Khalifah
Al-Mutawakkil pada tahun 232 H (847 M) sampai berdirinya daulah Buwaihiyah di
Baghdad pada tahun 334 H (946 M).
3. Masa Abbasiyah III, yaitu dari
berdirinya Daulah Buwaihiyah tahun 334 H (946 M) sampai masuknya kaum Saljuk ke
Baghdad tahun 447 H (1055 M)
4. Masa Abbasiyah IV, yaitu masuknya
orang-orang Saljuk ke Baghdad tahun 447 H (1055 M) sampai jatuhnya Baghdad ke
tangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H (1258 M).[4]
C. Ekspansi
Wilayah
Dinasti
Abbasiyah lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan islam
daripada perluasan wilayah. Sehingga pada pemerintahan Abbasiyah tidak fokus
pada politik, tercermin pada banyaknya wilayah yang melepaskan diri dari Dinasti Abbasiyah. Namun
walaupun wilayah pada masa Dinasti Abbasiyah semakin sempit, pada masa ini Ilmu
pengetahuan berkembang pesat. Sampai-sampai tokoh barat, bernama Philip K.
Hitti menyebut Baghdad, yang saat itu sebagai Ibu kota Dinasti Abbasiyah
sebagai kota intelektual, menurutnya Baghdad Merupakan professor masyarakat
islam.[5]
D. Peradaban Islam
Peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh dan berkembang bahkan mencapai
kejayaannya pada masa Abbasiyah. Hal tersebut dikarenakan Dinasti Abbasiyah
pada periode ini lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam
daripada perluasan wilayah. Di sini letak perbedaan pokok antara Dinasti
Umayyah dan Dinasti Abbasiyah.
Puncak kejayaan Dinasti Abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid
(786-809 M) dan anaknya Al-Makmun (813-833 M). ketika Ar-Rasyid memerintah, negara
dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin walaupun ada juga
pemberotakan, dan luas wilayahnya mulai dari Afrika utara hingga ke india. Didirikan
perpustakaan yang diberi nama Baitul Hikmah, di dalamnya orang dapat membaca,
menulis dan berdiskusi. Pada saat itu berkembang ilmu pengetahuan agama,
seperti ilmu Alquran, Qira’at, Hadits, Fiqh, Ilmu kalam, Bahasa dan Sastra.
Empat mazhab fiqh timbuh dan berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah. Disamping
itu berkembang pula ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, ilmu, ilmu
alam, geografi, aljabar, aritmatika, mekanik, astronomi, musik, kedudukan, dan
kimia.
Lembaga pendidikan pada masa dinasti Abbasiyah mengalami
perkembangan dan kemajuan sangat pesat. kemajuan tersebut paling tidak,
ditentukan oleh dua hal, yaitu sebagai berikut.
1.
Terjadinya
asimilasi antara bahasa arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu
mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan bani
Abbas, bangsa-bangsa non arab banyak yang masuk islam. Di samping itu, bangsa
Persia, India, dan yunani banyak berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
2.
Gerakan
penerjemahan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa Khalifah
Al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan
adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan mantiq. Fase kedua berlangsung
mulai masa Khalifah Al-Makmun hingga tahun 300 H. buku-buku yang banyak diterjemahkan
adalah dalam bidang filsafat, dan kedokteran pada fase ketiga berlangsung
setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas.
Dinasti Abbasiyah dengan pusatnya di
Baghdad sangat maju sebagai pusat kota peradaban dan pusat ilmu pengetahuan.
Beberapa kemajuan dalam berbagaia bidang kehidupan dapat disebutkan sebagai
berikut.
1. Bidang Agama
Kemajuan
di bidang agama antara lain dalam beberapa bidang ilmu, yaitu ulumul qur’an,
ilmu tafsir, hadits, ilmu kalam, bahasa, dan fiqh. Tokoh-tokohnya antara lain :
Imam Syafi’I pada bidang fiqh, Imam
Bukhori pada bidang ilmu hadits.
2. Bidang Umum
Dalam
bidang umum anatara lain berkembang berbagai kajian dalam bidang filsafat,
logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geometri,aritmatika, mekanik, astronomi,
musik, kedokteran, kimia, sejarah, dan sastra. Beberapa tokohnya antara lain,
pada filsafat ada Al-Ghazali, Ibnu Rusyd. pada Ilmu Kedokteran ada Ibnu Sina,
Ar-Raazi.
E.
Kemunduran dan Kehancuran
Sebagaimana
halnya keberadaan suatu pemerintahan, biasanya dimulai dari sejarah
pembentukan, kemudian dilanjutkan dengan kemajuan-kemajuan yang sempat diukir
dan diakhiri dengan kehancurannya. Termasuk Dinasti Abbasiyah ini, setelah
kemajuan-kemajuan sudah banyak diraih dalam banyak bidang, kemudian sampailah
pada fase kemunduran dan kehancurannya.
Menurut Dr. Badri Yatim, M.A., diantara hal yang menyebabkan
kemunduran Daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut.
1.
Persaingan
antar bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan
orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua
golongan itu pada masa bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama tertindas. Setelah
dinasti Abbasiayah berdiri. Pada masa ini persaingan antarbangsa menjadi pemicu
untuk saling berkuasa.
2.
Kemerosotan
ekonomi
Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi
bersamaan dengan kemunduran dibidang politik. Pada periode pertama, pemerintah
Bani Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kaya. Dan yang masuk lebih besar daripada yang keluar,
sehingga Baitul Mal penuh dengan harta. Setelah Khilafah mengalami periode
kemunduran, pendapatan negara menurun, dan dengan demikian terjadi kemerosotan
dalam bidang ekonomi.
3.
Konflik
Keagamaan
Fanatisme keagamaan terikat erat dengan persoalan kebangsaan. Pada
periode Abbasiyah, konflik keagamaan yang muncul menjadi isu sentral sehingga
mengakibatkan terjadi perpecahan. Berbagai aliran keagamaan seperti Mu’tazilah,
Syi’ah, Ahlu Sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan
Abbasiyah mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai paham keagamaan yang
ada.
4.
Perang
Salib
Perang Salib merupakan sebab dari eksternal umat Islam. Perang Salib
yang berlangsung Beberapa gelombang banyak menelan korban. Konsentrasi dan
perhatian pemerintahan Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara Salib
sehingga muncul kelemahan-kelemahan.
5.
Serangan
Bangsa Mongol
Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam menyebabkan
kekuatan Islam menjadi lemah, yang akhirnya menyerah kepada kekuatan Mongol.
Akhir dari kekuasaan Dinasti
Abbasiyah ialah ketika Baghdad dihancurkan oleh pasukan Mongol yang dipimpin
oleh Hulagu Khan, pada tahun 656 H/1258 M. Baghdad dibumihanguskan dan
diratakan dengan tanah. Khalifah Bani Abbasiyah yang terakhir dengan
keluarganya, Al-Mu’tashim Billah dibunuh, buku-buku yang terkumpul di baitul
Hikmah dibakar dan dibuang ke sungai Tigris sehingga berubahlah warna air sungai
tersebut yang jernih menjadi hitam kelam lunturan tinta yang ada pada buku-buku
itu.
Dengan demikian, lenyaplah Dinasti Abbasiyah yang telah memainkan
peran penting dalam pencaturan kebudayaan dan peradaban Islam dengan gemilang.[6]
BAB III
KESIMPULAN
Pemerintahan Dinasti Abbasiyah
dinisbatkan kepada Al-Abbas, paman Rasulullah SAW, sementara khalifah pertama
dari pemerintahan ini adalah Abdullah Ash-Shaffah. Selama dinasti Abbasiyah
berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan
perubahan politik, sosial, dan budaya. Dinasti Abbasiyah lebih menekankan pada
pembinaan peradaban dan kebudayaan islam daripada perluasan wilayah. Peradaban dan kebudayaan islam tumbuh dan berkembang bahkan mencapai
kejayaannya pada masa Abbasiyah. Puncak kejayaan dinasti Abbasiyah terjadi pada
masa khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M).
Perkembangan ilmu pengetahuan berkembang pesat pada masa ini. Dengan didirikan perpustakaan yang diberi nama Baitul Hikmah di Baghdad. Ilmu
pengetahuan berkembang dalam segala bidang. Dan pada masa Dinasti Abbasiyah
lahir tokoh-tokoh hebat di berbagai bidang keilmuan.
DAFTAR
PUSTAKA
Amin
, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban
Islam. Jakarta : Amzah
Fuadi,
Imam. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta : Teras
No comments:
Post a Comment