Monday, 21 December 2015
Malaikat ku
Wednesday, 4 November 2015
Air itu Menyapa
Saya berada dalam lingkaran angin yang mendawai dawai. Ketika dawainya terpetik, akan berbunyi. Ketika berbunyi, serasa, daun-daun itu diam. Semua mata tertuju. Bagai oase pada padang pasir... Semu
Bisakah angin ini berhenti sejenak, kawan.
Aku tak tahan melihat indra-indra itu tertuju... oh, lucunya negeri ini...
Ditambah lagi, adanya kabar angin yang meniup selebaran koran. Bak permainan saja. Ada perebotan bola di sini. Oh, sungguh indah nian...
HuuuuWss... angin tertiup lagi kawan, ada koran-koran berterbangan. Menantang kepada apa yang ditempelinya untuk membaca. Dan menyimpulkannya... ah, ini baru mulai...
Sunday, 1 November 2015
S A N T R I KAIFA HAL?
Masihkah sarung lusuh mengikat dipinggangmu?
Ataukah sudah berganti Wangler, Lotto, Lea atau Jeans?
Namun, tidak lah mengapa. Yang penting kau tetap santri...
Ataukah sudah berganti springbad bergaya eropa?
Friday, 30 October 2015
Semoga Semangatmu Mewarisi
Alhamdulillah, pagi tadi saya dibuat tersenyum. Ternyata, perjuangan berat Kartini untuk membela kaumnya, menyuarakan kebebasan untuk perempuan, menghasilkan efek samping yang dapat dirasakan hingga saat ini. Sekarang, kaumnya dengan riang bisa benafas lega. Tak seperti dulu, setiap kaumnya selalu terisolasi. Bahkan, ibaratnya untuk tersenyum pun terdapat aturannya. Lagi, masih ingatkah kaumnya sekarang bagaimana Kartini terus menerus berpeluh untuk bangsanya dan tentunya, untuk kaumnya.
Ah, Kartini kisahmu memang panjang namun tak membosankan. Bahkan, akupun dibuat malu karena mu. Kau begitu semangat, kau begitu gigih dalam mengungkapkan "uneg-uneg" mu.
Kartini, tahukah engkau? Dalam sebuah buku yang berjudul "The Chronicle of Kartini". Kau diceritakan. Di dalam buku itu, kau sering kali menamparku dengan semangatmu. Aku sungguh "sungkan" kepadamu. Andai, sekarang kau melihat kaummu, aku berharap kau masih bisa tersenyum bangga. Dan sementara itu, semoga kau tak lupa untuk mewakilkan semangatmu kepada kaummu khususnya, dan kami semua umumnya.
Kartini, aku rindu hadirmu.(ibl)
Selamat sore "senja"
Bukannya aku tak sebahagia dulu. Kata orang bahagia itu dipilih. Dan aku selalu berusaha memilih bahagia. Sayangnya, bahagia tak sedang berpihak
Monday, 26 October 2015
Pemberani yang Tenang
Ada sebagian orang yang bilang bahwa curhat ke media sosial adalah salah satu bentuk ekspresi yang lebay. Tapi, apakah hanya karena itu kita langsung bisa memvonisnya sebagai seseorang yang lebay?
Kenapa tidak pandang ia dari sudut pandang yang lain? Mungkin saja itu adalah cara mereka untuk berbagi. Dan kita, bisa mengambil hikmah dari ke-lebay-annnya tadi. Singkirkan sikap idealis kita sejenak dan carilah sudut pandang dari berbagai pandangan.
Perlu diketahui, kegiatan curhat di media sosial yang notabene dihuni oleh beragam konsumen yang memiliki berbagai tanggapan itu adalah salah satu kegiatan yang berani. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena, tanpa disadari sang curhator tadi berhadapan dengan beribu penilai dari berbagi golongan di media sosial. Kurang berani gimana coba 1 orang dihadapkan dengan beribu penilai.
Curhatlah dan menulislah untuk ketenangan serta keberanian.(ibl)
Sunday, 25 October 2015
Lakmud yang Terbayang
Ego sentral itu sangat rawan bung. Perlulah kita untuk berhati-hati. Apabila ada yang menyanjungmu, tak perlu tepuk tangan. Wong justru tanggung jawabmu semakin banyak. Akrabi kontrol sosial sajalah, dan fokus pada bidangmu. Berbanggalah, terserah konflik dapur ketua itu seperti apa. Tapi, jangan sekali-kali mengganggu dapur kaderisasi. Kritislah, tapi yang membangun. Ingat, Jika kita memberi sesuatu dari hati. Maka, akan diterima dengan hati. Sebaliknya, apabila kita memberi dengan emosi. Maka, akan diterima dengan emosi.(ibl)
Friday, 23 October 2015
Bolehkah Saya Merenung?
Apa hanya duduk disana sekarang. Seolah kau faham dengan suara yang masuk telingamu. Apa hanya duduk rapi dengan baju yang menurutmu bagus dibenakmu?
Dan sementara itu, pernahkah kau mengelus dan mencium kedua tangan "donatur"mu? Pernahkah kau menoleh atau untuk sekedar "menyapa"nya?
Thursday, 22 October 2015
Sakti Mandraguna
Sudah diketahui bahwa Pancasila adalah salah satu hasil kerja keras atau bisa disebut “ijtihad” para pahlawan dahulu yang mana Pancasila tetap relevan hingga