Monday, 21 December 2015

Malaikat ku





 Malaikat ku

    Bukan lagi seperti malaikat, tetapi dia memang malaikat.
Malaikat yang dikirim oleh Tuhan, untuk merengkuh ku, kakak ku dan juga adik ku dari kehidupan yang penuh nestapa ini. Memberikan segala kelembutan kasih sayangnya, demi mencicipi sesuap nasi, tempat tinggal yang memadai, juga pengharapan masa depan indah yang selalu di nanti dari kami. Dia tak pernah sama skali mengeluh atas kelelahannya. Dia yang terus bekerja keras. Dari menjadi buruh tani di tengah padi padi, hingga kini  pun menyandang buruh,  di rumah orang Patani. Membanting tulang dari datangnya fajar hingga hilangnya mega menyambut gelapnya dunia.


    Sungguh dia memanglah malaikat bagi kami. Memberikan segala dayanya bahkan nyawanya pun ia rela korbankan demi kami dan tak mengharap budi. senantiasa haya demi membahagiakan buah hatinya. Mengajarkan arti sebuah kesabaran, ketabahan juga ketaatan. Siapa tak kagum dengannya?

    Oh dia sungguh malaikat. Dia tak terlahir dari keluarga berpendidikan apalagi bangsawan. Namun dia tak pernah malu dari apa yang dia sandang saat ini. Melahirkan generasi yang hebat dan jauh dari keterbelakangan masa depan adalah impian untuk buah hatinya agar mengunguli derajatnya.
    Betapa dia sangat berarti dan tak kan pernah terganti. Dialah kasih bagi kami, bagai matahari yang selalu bersinar menghangatkan kehidupan ini. Teladan bagi kami untuk meraih impian impian dari pahitnya kehidupan ini.
   
    Terimakasih malaikat. Perasaan kagum menggumpal dalam lubuk hati ini entah bagaimana aku meluapkannya, yang mana aku tak mampu melebihi kapasitas dari  apa yang telah kau kasihkan pada kami.
    Benar, dialah dikau sang ‘malaikat’. Cinta kasih dan terimakasihku yang tak kan pernah terhenti.
    Ah aku malu. Dan benar benar malu denganmu. Maafkan aku  malaikatku. Seraya  aku tak pantas menjadi buah hatimu. Aku selalu mengecewakan mu, menyusahkanmu, dan terus mengeluh padamu bahkan sejak gigiku baru mulai tumbuh. Betapa kejamnya aku padamu . Tapi kau tak penah marah.
    Oh sungguh seakan kata maaf ini tak berarti sama sekali. Kau pun juga tak pernah mengharapkan itu. Karena kasihmu yang tiada pamrih.
    Sekarang umurmu tak lagi muda malaikatku. Tetaplah tersenyum dan nantikan masa indah yang kau harapkan itu. Tetaplah dalam sandaran Tuhan disetiap helai nafasmu, tetaplah terus berdoa kepada sang maha pencipta ,,
agar buah hatimu mampu meraih apa yang kau harapkan. Saatnya ku harus berjuang dan perang agar kenestapaan hidup ini tak lama berlarut larut yang sebenarnya menyayat hatimu, dan biarlah bunga bunga ditaman rumah tak lagi merengkup dan mengering. Biarlah rumah yang kusut itu terus berwarna meski mentari sembunyi dari lubuk awan.
    Terimaksih yang tiada tara padamu, maafkan atas keacuhan buah hatimu. smoga kau meridhoi setiap langkah kami. Denganya Tuhan pun akan meridhoi langkah kami.
Terimakasih Malaikatku ‘IBU’...

No comments:

Post a Comment