Malaikat
ku
Bukan
lagi seperti malaikat, tetapi dia memang malaikat.
Malaikat yang dikirim oleh Tuhan, untuk
merengkuh ku, kakak ku dan juga adik ku dari kehidupan yang penuh nestapa ini.
Memberikan segala kelembutan kasih sayangnya, demi mencicipi sesuap nasi,
tempat tinggal yang memadai, juga pengharapan masa depan indah yang selalu di
nanti dari kami. Dia tak pernah sama skali mengeluh atas kelelahannya. Dia yang
terus bekerja keras. Dari menjadi buruh tani di tengah padi padi, hingga
kini pun menyandang buruh, di rumah orang Patani. Membanting tulang dari
datangnya fajar hingga hilangnya mega menyambut gelapnya dunia.
Sungguh
dia memanglah malaikat bagi kami. Memberikan segala dayanya bahkan nyawanya pun
ia rela korbankan demi kami dan tak mengharap budi. senantiasa haya demi
membahagiakan buah hatinya. Mengajarkan arti sebuah kesabaran, ketabahan juga
ketaatan. Siapa tak kagum dengannya?
Oh
dia sungguh malaikat. Dia tak terlahir dari keluarga berpendidikan apalagi
bangsawan. Namun dia tak pernah malu dari apa yang dia sandang saat ini. Melahirkan
generasi yang hebat dan jauh dari keterbelakangan masa depan adalah impian
untuk buah hatinya agar mengunguli derajatnya.
Betapa
dia sangat berarti dan tak kan pernah terganti. Dialah kasih bagi kami, bagai
matahari yang selalu bersinar menghangatkan kehidupan ini. Teladan bagi kami
untuk meraih impian impian dari pahitnya kehidupan ini.
Terimakasih malaikat. Perasaan kagum menggumpal
dalam lubuk hati ini entah bagaimana aku meluapkannya, yang mana aku tak mampu
melebihi kapasitas dari apa yang telah
kau kasihkan pada kami.
Benar, dialah dikau sang ‘malaikat’. Cinta
kasih dan terimakasihku yang tak kan pernah terhenti.
Ah
aku malu. Dan benar benar malu denganmu. Maafkan aku malaikatku. Seraya aku tak pantas menjadi buah hatimu. Aku selalu
mengecewakan mu, menyusahkanmu, dan terus mengeluh padamu bahkan sejak gigiku
baru mulai tumbuh. Betapa kejamnya aku padamu . Tapi kau tak penah marah.
Oh
sungguh seakan kata maaf ini tak berarti sama sekali. Kau pun juga tak pernah
mengharapkan itu. Karena kasihmu yang tiada pamrih.
Sekarang
umurmu tak lagi muda malaikatku. Tetaplah tersenyum dan nantikan masa indah
yang kau harapkan itu. Tetaplah dalam sandaran Tuhan disetiap helai nafasmu,
tetaplah terus berdoa kepada sang maha pencipta ,,
agar buah hatimu mampu meraih apa yang kau
harapkan. Saatnya ku harus berjuang dan perang agar kenestapaan hidup ini tak
lama berlarut larut yang sebenarnya menyayat hatimu, dan biarlah bunga bunga
ditaman rumah tak lagi merengkup dan mengering. Biarlah rumah yang kusut itu
terus berwarna meski mentari sembunyi dari lubuk awan.
Terimaksih
yang tiada tara padamu, maafkan atas keacuhan buah hatimu. smoga kau meridhoi
setiap langkah kami. Denganya Tuhan pun akan meridhoi langkah kami.
Terimakasih Malaikatku ‘IBU’...
No comments:
Post a Comment