Pancasila Sakti Mandraguna
"Sekarang ini orang cenderung pragmatis, pendapatnya selalu mengikuti pendapatan, pendapatannya dimana itulah pendapatnya. Maka ketika pendapatannya bergeser maka pendapatnya akan ikut tergeser juga". Pendapat KH. Hasyim Muzadi di salah satu media cetak.Berkaca dari peristiwa tersebut, penulis memberi gambaran bahwa orang yang demikian ini kurang mengamalkan ًPancasila.
Sudah diketahui bahwa Pancasila adalah salah satu hasil kerja keras atau bisa disebut “ijtihad” para pahlawan dahulu yang mana Pancasila tetap relevan hingga
sekarang. Lagi, Pancasila sebagai ideologi bangsa sangat berperan untuk menyatukan kesatuan bangsa ini. Tentunya, ungkapan itu akan terealisasi apabila para penduduk bangsa tersebut mengamalkannya.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kita hidup di bangsa yang menjunjung tinggi keberagaman. Sangat biasa, apabila seharunya penduduknya saling menghormati, serta bertoleransi.Bukan malah saling “serang” dengan dalih perbedaan kepercayaan. Perlu diingat lo ya. Kepercayaan kita itu sama, sama-sama percaya adanya Tuhan. Iya kan? Perihal “apa nama” Tuhan kita itu ya terserah, selama Tuhan tersebut diakui secara sah keberadaan agamanya di Indonesia. Perbedaan itu adalah Indonesia
Sudah diketahui bahwa Pancasila adalah salah satu hasil kerja keras atau bisa disebut “ijtihad” para pahlawan dahulu yang mana Pancasila tetap relevan hingga
sekarang. Lagi, Pancasila sebagai ideologi bangsa sangat berperan untuk menyatukan kesatuan bangsa ini. Tentunya, ungkapan itu akan terealisasi apabila para penduduk bangsa tersebut mengamalkannya.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Memang benar, tidak ada yang adil di dunia ini selain Tuhan kita, Allah. Akan tetapi mengutip perkataan Imam Bajuri yang namanya adil adalah menilai, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Nah, kita berdomisili di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang jelas ada perbedaan-perbedaan. Misalnya, perbedaan agama. Kita, muslim dengan mayoritasnya seyogganya mampu menghargai “orang lain” yang menjadi minoritas. Bukan malah mendiskrimasi meraka. Cobalah merubah sudut pandang. Berkatalah dalam hati “Bagaimana kalau aku diposisi mereka ya?” gitu.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia
Setelah kita menyelami dimensi sila pertama dan kedua seharusnya kita bisa bersatu. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Tidak ada lagi yang namanya “Ih, dia orang k*****n” misalnya. Karena apa, secara tidak langsung ucapan kita tadi pasti melukai hati orang yang penulis maksud. Sehingga, menimbulkan kesenjangan sosial yang akhirnya mempreteli Persatuan Indonesia tadi.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan
Panjang banget ya. Ini harusnya lebih mengena lagi. Dengan kebijaksanaan (kalau punya hehehe) sewajarnya kita membuang ego kita. Dalam bemusyawarah umum misalnya, lebih fleksibel, tidak kaku, dan legowo. Mungkin itu resep jitu agar kita diterima di khalayak umum. Sehingga, tak peduli apa agama mu, dari mana suku mu. Buang rasa itu, mari bermusyawarah bersama untuk kemajuan bangsa.
Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ini bukan tujuan penulis, ini bukan tujuan Soekarno, bahkan ini bukan tujuan para pahlawan. Akan tetapi ini tujuan Indonesia, tujuan kita. Dengan Ketuhanan dan Kemanusiaan akan menghadirkan Persatuan. Persatuan dalam Bermusyawarah, Insyaallah akan mewujudkan Keadilan bagi kita semua. Ayolah teman, tidak ada yang salah di sini. Yang salah adalah mereka yang tidak mau berproses. Salam Juang (ibl).
No comments:
Post a Comment