Sunday, 3 April 2016

Negeri “ENTAH berantah”



            “Sampai kapan kamu akan begini terus, nak”?, jawab si anak dengan tenang, “entahlah”.
Sebuah perkataaan sederhana, namun ketika di fahami akan berdampak besar bagi sebuah kelangsungan interpretasi yang bernama persepsi dalam fikiran. Pada dasarnya sebuah tujuan adalah sesuatu yang menjadikan jalan akhir dalam kajian teoritis maupun tekstual dalam momentum perjalan manusia.
            Tidak dapat di pungkiri bahwa pelemahan-pelemahan yang ada terutama dalam tatanan kesosialan bermasyarakat dan berbudaya terkadang sangat di pupuk subur dalam konsepsi fikiran yang terbatas. Padahal dalam kajian tertentu hal yang demikian itu sangatlah berbahaya dalam perspektif perjalanan kedepanya.
            Tulisan kecil karya mas Woko utoro insya allah akan sedikit menggugah fikiran anda wahai para pembaca. Tulisan sederhana ini akan memWowkokan semangat anda dalam hal literasi kajian ilmu yang bermanfaat kedepanya, perlu di fahami bahwa dalam tulisan ini nantinya bukan untuk mengubah paradigma atau bahkan mengubah ideologi anda, melainkan akan mengubah cara pandang secara sederhana untuk menjadikan sebuah proses dan tujuan akhir itu penting dalam sebuah ke indahan berpersepsi dan telaah kehidupan di masa depan.
            Mari kita kembali pada pokok permasalahan yang ada di atas, saya sangat mengamini bahwa cara pandang seseorang dalam menelaah sesuatu itu sangat berbeda- beda dan memiliki corak warnanya masing-masing. Beda kepala beda pula isinya, mungkin pepatah itu yang tepat untuk menggambarkan madzhab fikiran seseorang, disisi lain berbedaan adalah rahmat.
            Kata entah adalah salah satu dari kata yang akan membuat psikologi seseorang akan mengalami perubahan walaupun tidak begitu signifikan, akan tetapi tak dapat menafikan bahwa kata itu akan menjadi sebuah negeri yang mengerikan dalam fikiran kita, yang akan memenjarakan bahkan akan membunuh siapa saja yang terus mentradisikanya. Dalam sebuah kajian psikologi hal yang demikian harus di buang sejauh mungkin, karena yang demikian itu akan memperlambat persepsi yang sejak awal memiliki pandangan yang jernih seketika itu juga akan menjadi keruh dan menjadi sosok yang mengerikan. Di tambah lagi di tinjau dari sisi tasawuf hal itu akan membuat pesimis seseorang untuk mencapai segala apa yang ia inginkan, dalam konteks ini yaitu sesuatu yang baik dan di peroleh dengan baik pula.
            Maka dari itu  proses optimalisasi kehidupan sangat di perlukan sekali dalam sebuah sugesti, guna menumbuhkan neuron-neuron positif yang akan terus memacu arah otak menuju jalan yang gemilang. Teruslah melangkah agar tetap dalam dalam keadaan istiqomah, jangan coba untuk berhenti sejengkalpun, karena kita harus di beri stimulus bahwa masa depan akan cerah, terbuka lebar bagi siapa saja yang mau menjemputnya. Masa depan bukan di khususkan bagi mereka yang pintar akan tetapi akan di berikan bagi mereka yang cerdas, yang mampu memanfaatkan di setiap waktu-waktu luangnya untuk teru belajar dan belajar, bukan untuk malas-malasan. Jangan pernah anggap dirimu itu paling bodoh, tetapi anggaplah diri ini adalah salah satu orang yang haus akan ilmu pengetahuan, bukankan kita tak ingin di anggap sebagai orang yang miskin ilmu?, maka dari itu belajarlah.

            Memiliki ilmu pengetahuan di atas orang lain bukan bermaksud untuk menyombongkan diri melainkan untuk introspeksi diri dan mengayaomi, ingat bukan menggurui. Jauhkan perkataan yang berbau melemahkan dan hadirkanlah pewangi penyejuk dengan kata optimisme tinggi, didiklah, didiklah, didiklah, bisa, bisa, bismillah. ”Allah akan mengangkat orang yang mau menuntut ilmu beberapa derajat”..Kemalasanku adalah air mata kedua orang tuaku, woks,MA

6 comments:

  1. keeeerrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnn

    ReplyDelete
  2. Keren...
    Sedikit koreksi ttg struktur kebermasyarakatan sepertinya lebih pas dengan struktur masyarakat saja, ada juga kata sangat penting sekali, kata sangat sudah bermakna superlitas jadi tidak perlu kata sekali..
    Good job..

    ReplyDelete
    Replies
    1. oke matur thank you poro komentator atas masukanya
      ...
      di tunggu lagi masukan yang lebih segar yang lainya
      "pantun"dua tiga rohmat menangis...saya jadi semangat untuk menulis..

      Delete